Cara Mengatasi Culture Shock dengan Cepat

Culture Shock Kerap Menjadi Musuh bagi Mahasiswa Internasional Culture Shock Kerap Menjadi Musuh bagi Mahasiswa Internasional

Bagi sebagian besar mahasiswa internasional, culture shock dianggap sebagai hal yang wajar. Meskipun begitu, hal tersebut tidak dapat dianggap remeh karena dapat memicu timbulnya depresi akut. Untuk itu, bagi kamu yang berniat melanjutkan kuliah ke luar negeri, ada baiknya baca artikel ini sampai tuntas, ya.

Umumnya, mahasiswa yang mengalami culture shock adalah mereka yang masih labil dalam beradaptasi. Keadaan lingkungan, terutama kampus dan kelas yang tidak sesuai harapan dinilai menjadi salah satu faktor penyebab munculnya gejala culture shock.

Culture shock sangat berkaitan dengan keadaan di mana perasaan khawatir dan galau berlebih dikarenakan seseorang menempati wilayah baru dan asing. Maka, untuk meminimalisir dampak yang diakibatkan dari culture shock, penting untuk kamu mengenali gejala-gejalanya sedini mungkin.

Dilansir dari houtcourse.com, terdapat setidaknya empat tahapan yang menyebabkan timbulnya culture shock:

1. The Honeymoon Phase

Suatu tahapan di mana kamu akan merasakan kondisi bahagia setibanya di negara yang baru, apalagi negara yang belum pernah kamu kunjungi sebelumnya.

2. The Crisis Phase

Perbedaan-perbedaan di negara baru baik itu segi makanan, logat yang susah dimengerti, kebiasaan jual beli dan merasa kesepian. Hal tersebut akan membuat kamu merasa terasing dari lingkungan. Namun, kamu akan mampu segera mengatasinya jika kamu dapat menyesuaikan diri dengan baik.

3. The Adjustment Phase

Pada fase ini, kamu sudah mulai bisa berinteraksi dengan lingkungan di negara baru.

4. Bi-Cultural Phase

Di tahap ini kamu merasa nyaman hidup dengan dua kebudayaan sekaligus. Ini merupakan indikasi positif, karena kamu telah berhasil melalui suatu seleksi alam kecil. Namun, ini pula yang menyebabkan fenomena mahasiswa terlalu memuja kebudayaan asing sehingga ketika pulang ke negeri sendiri, ia malah merasa asing kembali. Untuk itu, kamu mesti bisa menyeimbangkan antara memahami kebudayaan tanpa meninggalkan identitas kita sebagai bangsa Indonesia.

Lantas, bagaimana agar tidak mengalami depresi akibat culture shock?

Penuhi wawasan kamu dengan informasi terkait negara tujuan kuliah. Cara terbaik adalah dengan membaca buku panduan tentang negara terkait, bertanya kepada orang yang pernah tinggal di sana, browsing di internet, dan yang paling penting jangan membayangkan kehidupan di sana sama persis seperti yang selalu kita tonton di film atau televisi. Karena, bisa-bisa kamu malah terjebak dalam halusinasi dan kesalahpahaman.

Cari tahu juga mengenai kebiasaan, budaya, olahraga yang populer di negara tujuan hingga topik pembicaraan sehari-hari dan bahasa tubuh.

Satu lagi yang perlu kamu ketahui adalah selera humor di negara tujuan. Jangan sampai bahan bercanda kita di tanah air justru malah menyinggung perasaan teman di negara asing, menjengkelkan atau bahkan garing.

Kemudian, setibanya di negara tujuan, segera kenali kehidupan setempat dan ketahui tempat-tempat penting seperti kantor pos, toko, dokter, dan kantor pelayanan mahasiswa internasional. Semua itu tentu saja tidak akan berjalan mulus jika kamu merasa takut dan was-was terhadap lingkungan baru. Jadi, beranilah bertanya tentang keadaan dan adat di tempat baru. Singkatnya, kamu harus aktif bertanya.

Selain itu, baca juga koran lokal sehingga kamu tahu topik pembicaraan yang sedang hangat dan bisa kamu diskusikan dengan teman-teman baru.

Namun jangan lupakan tanah air karena terlalu asyik menyesuaikan berbagai hal di negara baru. Tetap pantau berita terbaru secara online tentang tanah air, ini juga bisa menjadi salah satu topik pembicaraan. Pelajar internasional lain biasanya saling berbagi cerita mengenai negara asal mereka.

Di kampus, biasanya ada kegiatan penunjang bagi mahasiswa. Dapatkan informasi di pusat pelayanan mahasiswa internasional tentang paket liburan dan aktivitas kampus yang cocok dengan bakat dan minat kamu. Kamu akan segera mengenal teman-teman seiring kegiatan bersama yang kalian ikuti. Intinya, jadilah orang yang suka bersosialisasi.

Selain culture shock, ada juga lho istilah lain yang wajib kamu ketahui saat kamu akan memutuskan untuk pindah atau melanjutkan studi ke luar negeri. Istilah yang dimaksud adalah cullture lag.

Dikutip dari liputan 6.com, menurut Sociology Dictionary, culture lag adalah jangka waktu antara pengenalan perkembangan teknologi baru (budaya material) ke dalam budaya atau masyarakat. Culture lag bisa diartikan sebagai waktu yang dibutuhkan suatu budaya untuk mengejar inovasi dalam teknologi. Culture lag juga bisa disebut dengan ketertinggalan budaya.

Ketertinggalan budaya terjadi ketika teknologi berkembang lebih cepat daripada aspek budaya non-materi. Dengan kata lain, culture lag adalah ketika perubahan teknologi, atau sesuatu yang serupa seperti alat, berkembang lebih cepat daripada yang dapat diproses oleh masyarakat.

Maka bisa dipastikan, ketika seseorang dari latar belakang budaya negara berkembang, ia akan mengalami culture lag saat perkembangan budaya dan teknologi negara asalnya tertinggal jauh dari negara tujuan, tepatnya yang ada di negara-negara maju.

Sekali lagi, dengan adaptasi atau penyesuaian diri yang baik terhadap lingkungan baru, kamu akan dengan mudah melewati itu semua.

Semoga membantu dan selamat berjuang, ya