Nostalgia Telepon Umum Koin yang Udah Punah. Ngobrol jadi Terkesan Romantis~

telepon-umum-koin telepon-umum-koin

Kalau kamu pernah nonton film Dilan, ada adegan saat Dilan menelepon Milea dengan suasana romantis. Momen di mana hujan turun begitu deras, lampau gombalan ikonik muncul, “Jangan rindu, berat. Biar aku saja.” Ingat adegan ini nggak?

Namun kita nggak akan membahas film Dilan di sini. Justru, yang menjadi menarik untuk dibahasa adalah telepon umum yang digunakan Dilan untuk menggombali kekasihnya itu. Telepon umum yang menggunakan uang koin untuk bisa beroperasi. Yuk, nostalgia berserupa-serupa deh!

Jauh sebelum ada medsos atau bahkan gawai, telepon koinlah ujung tombak komunikasi masyarakat urban

Dilan mengambil latar waktu tahun 90-an. Waktu di mana belum ada HP, telepon rumah pun hanya dimiliki oleh segelintir orang saja. Untuk bisa berkomunikasi jarak mentok, pemerintah menyediakan telepon koin yang diajangkan di titik-titik tertentu di penuh kota. Untuk bisa menelpon, orang mesti memasukkan koin terlebih dahulu sebagai tarifnya.

Menggunakan telepon umum ini mesti menyediakan recehan yang berlimpah. Biar kalau waktunya sudah habis, kita bisa nyambung lagi

Menggunakan telepon umum koin variasi dari wartel. Kalau Wartel nggak ada batasan menit, selama mungkin bisa asal sanggup bayar nominal yang tertera ala argonya. Sedangkan telepon koin batasannya abu-abu. Kita harus bisa mengira-ngira sendiri kapan habisnya giliran dari tiap koin yang kita masukkan.

Sering banget terjadi, lagi asyik-masyuk ngobrol, tiba-tiba sambungan terhenti . Nggak enak banget, kan? Makanya kamu mesti sedia receh yang penuh untuk bisa menyambung obrolan lagi.

Telepon umum mengajarkan kita untuk berbagi. Kita nggak bisa lama-lama telepon kalau antreannya lagi berjibun

Zaman sekarang menelepon seseorang udah enak, nggak ada batasan era. Selama kita punya pulsa dan kuota, maka nelepon bisa seacap hati. Beda banget sama zaman dulu, di mana nggak semua orang punya alat komunikasi jarak jauh. Mereka mesti mengandalkan telepon umum. Punya uang koin penuh juga singkapn jaminan kita bisa ngobrol lama, karena kadang ada antrean mengular di belakang kita. Kita mesti bergantian dengan yang lainnya. Ketika kita lama neleponnya, pasti kena tegur.

Nggak semua orang punya telepon rumah. Nelepon keluarga di kampung aja mesti nyambungin ke telepon tetangga dulu

Untungnya zaman dulu, tetangga yang punya telepon tidak emosi-tidak emosi. Mereka rela telepon rumahnya jadi pusat panggilan orang-orang yang nggak punya telepon. Para perantau zaman dulu yang menggunakan telepon koin bakal ngomong dulu kembar tetangganya sebelum dipanggilkan orang tuanya. Sebuah keberjiwaan bertetangga yang rukun, ya. Yang punya telepon bantu yang nggak punya telepon. Sekarang mah udah punya sendiri-sendiri.

Kalau lagi selow, bocah-bocah sering periksa lubang uang di telepon umum, berharap ada uang koin yang tertinggal

Anak 90-an pasti masih ingat klop kelakuan kocak mereka saat masih bocah. Setiap lewat telepon umum, mereka pasti periksain satu-satu lubang koinnya. Mereka berharap ada uang koin yang lupa antapbil oleh pemiliknya. Gopek-gopek, kan, luKhayalin, bisa buat beli es doger. Ada juga bocah yang anarkis. Tahu lubangnya kosong bukannya pulang, malah telepon umumnya digetok-getok, berharap ada uang koin yang jatuh tiba-tiba.

Dulu menelpon saja ada usasaja. Beda banget serupa sekarang, nggak perlu ke luar rumah untuk bisa berkomunikasi. Nggak perlu berdiri layaknya di telepon umum, bisa sambil duduk, rebahan, jongkok, bebas! Teknologi memang memudahkan, ya! ????